CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Tampilkan postingan dengan label tokoh dan sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh dan sejarah. Tampilkan semua postingan

20 Mar 2013

Quote Soe Hok Gie

Betapa berat dan sukarnya perjuangan menuju kebenaran, Dan betapa kita harus memeranginya. Kita dalam bertindak benar memakai segi rasio dan intuisi, sedang mereka hanya membakar perasaan lalu pergi begitu saja.
Dehumanisasi dengan pemerasan-pemerasan yang mungkin menghasilkan hasil-hasil yang indah, bagiku tetap merupakan hasil yang negatif.

Seharusnya mereka bisa berpikir tenang karena predikat kesarjanaan itu. Tetapi mereka tidak bisa terlepas dari fungsi sosialnya ialah bertindah demi tanggung jawab sosialnya bila keadaan telah mendesak. Kelompok intelektual yang terus berdiam dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiaannya. Ketika Hitler mulai membuas maka kelompok inge school berkata tidak. Mereka walaupun masih muda, telah berani menentang pemimpin-pemimpin gang-gang bajingan. Bahwa mereka mati, bagiku bukan soal. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran,
Generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua. Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, yang tersial adalah yang berumur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda. 
Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. 
Bagiku sendiri, politik adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor, Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir? 
Perasaan ‘sayang’ yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa ‘cinta’ pada semua manusia, anjing-anjing di jalanan, mungkin pula pada semuanya. 
Apakah yang lebih tidak adil selain daripada mendidik sebagian kecil anak-anak orang kaya dan membiarkan sebagian besar rakyat miskin tetap bodoh? 

Saya tak tahu mengapa, saya merasa agak melancholic malam ini. Mungkin karena terlalu lama tidur siang. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas Jakarta dengan ‘warna-warna’ yang baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam suatu kombinasi wajah kemanusiaan. Semua terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya lepas. 
Aku pesimistis sekali pada dunia. Aku cinta pada anak-anak, pada binatang-binatang, rakyat yang sabar dan patuh ditindas. Tapi di samping itu, manusia kejam sekali. Lihatlah ada peperangan, sengsara, penipuan, perbudakan. 

Kita nggak mungkin bisa hidup bebas begini kalau bukan karena melawan. Soekarno, Hatta, Syahrir, mereka semua berani memberontak dan melawan. Mereka berani melawan semua kesewenang-wenangan.
Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya. Kadang saya takut apa jadinya saya kalau saya patah-patah….
Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran. 
Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis… 

Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar, dan murid bukanlah kerbau.
Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa.
Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi 
Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.
Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
Makhluk kecil kembalilah. Dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu.

Saya mimpi tentang sebuah dunia dimana ulama, buruh, dan pemuda bangkit dan berkata, “stop semua kemunafikan ! Stop semua pembunuhan atas nama apapun.. dan para politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkatan gandum, susu, dan beras buat anak-anak yang lapar di 3 benua, dan lupa akan diplomasi.
Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun..dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.” 
Aku kira dan bagiku itulah kesadaran sejarah. Sadar akan hidup dan kesia-siaan nilai.
Dunia ini adalah dunia yang aneh. Dunia yang hijau tapi lucu. Dunia yang kotor tapi indah. Mungkin karena itulah saya telah jatuh cinta dengan kehidupan. Dan saya akan mengisinya, membuat mimpi-mimpi yang indah dan membius diri saya dalam segala-galanya. Semua dengan kesadaran. Setelah itu hati rasanya menjadi lega.

Bagi saya kebenaran biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan. 
Saya tidak tahu masa depan saya. Sebagai orang yang berhasil? Sebagai orang yang gagal terhadap cita-cita idealisme? Lalu tenggelam dalam waktu dan usia? Sebagai orang yang kecewa dan lalu mencoba meneror dunia? Atau sebagai orang yang gagal tapi dengan penuh rasa bangga tetap menatap matahari yang terbit? Saya ingin coba mencintai semua. Dan bertahan dalam hidup ini. 
Tugas inteletual bagi saya adalah justru mencari kontak dan mendorong elemen-elemen dalam segala lapisan masyarakat untuk bergerak dan berontak terhadap situasinya. Dan konsekuensi fisik harus berani dihadapi. 
Kalau kau tak sanggup menjadi beringin yang tegak di puncak bukit, jadilah saja belukan, tapi belukan terbaik yang tumbuh di tepi danau. Kalau kau tak sanggup menjadi belukan, jadilah saja rumput, tapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Tidak semua jadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Jadilah saja dirimu, sebaik-baiknya dirimu sendiri.
 
Saya telah memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya.
"Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikkan"




13 Mar 2013

yang dinamakan sejarah

Ada beberapa orang yang menyukai sejarah, ada yang menyukai sejarah hidupnya sendiri (yang ini aga’ berkesan narsis^^), ada yang suka dengan sejarah bangsanya dan sebagian ada yang suka dengan sejarah kehidupan tokoh yang diangga “keren” dan layak disejarahkan. hehehe
dan tokoh ini (yang belum disebutkan namanya), entah kenapa saya begitu meng”keren”kan sosok ini. mungkin banyak yang tau dengan beliau. sosok yang mati muda dengan pikiran kritisnya.
oke tak usah berlama-lama, pertama0tama saya perkenalkan puisi yang ditulisnya sekitar tahun 1969. CEKIDOOTT…!!

SEBUAH TANYA
“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

Selasa, 1 April 1969

Catatan Sahabat untuk Sang Demonstran

nilai nilai yang dianut Hok-gie sebagai sosok aktivis dan cendikiawan yang mengedepankan humanisme, moralitas, kejujuran, setiakawan dan integritas yang kukuh tak mudah dibeli, layak ditiru.
Bagian pertama-buku yang terdiri dari lima bagian ini- dibuka dengan pengakuan dan pengalaman sejumlah sahabat Hok-gie, saat mendaki Gunung Semeru, 12 desember 1969 hingga ajal menjemputnya . Agar mendapat cerita yang utuh tentang kronologis tewasnya Hok-gie, Editor buku Rudy Badil dan kawan-kawan, menghubungi pelaku sejarah yg sudah tak muda lagi. Mengorek informasi dengan mengandalkan sisa ingatan mereka. Sejumlah dokumentasi seperti tulisan tangan di secarik kartu pos dan foto-foto pendukung terkait peristiwa ikut dilampirkan untuk memperkuat historiografi. Sebagian foto seputar kehidupan peranakan Tionghoa yang dimuat dalam buku ini, belum banyak diketahui khalayak Kesemuanya kemudian diramu dan disajikan lewat cerita yang mengalir, bertutur dan cukup jenaka.
Sehari menjelang ulang tahunnya ke-27 atau tepatnya 16 Desember 1969, Hok-gie bersama salah satu anggota rombongan Idhan Dhanvantari Lubis (19) tewas, diduga akibat gas racun di puncak Mahameru . Rudy Badil menulis, proses evakuasi jenazah yg memakan waktu lebih dari satu pekan, memaksa mereka bertahan hidup di alam bebas. Agar tetap hidup, selama empat hari empat malam mereka makan sawi hutan, umbut dan akar alang-alang di gunung tertinggi Pulau Jawa itu. Jenazah Hok-gie dan Idhan Lubis akhirnya berhasil dievakuasi lebih dari sepekan. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Jakarta 24 Desember 1969.
Kematian Hok-gie yang mendadak dan sangat mengejutkan menyita pemberitaan media massa saat itu. Tajuk Rencana Kompas, 22 Desember 1969, misalnya menulis:”…Dia seorang pemuda yang luar biasa telah meninggalkan kita. Luar biasa dalam banyak hal. Cerdas, brilian, jujur, dan terbuka. Seorang idealis yang murni, dengan perasaan keadilan yang tajam. Suatu manusia yang berjiwa bebas. Dan semua itu dihias dengan keberanian yang luar biasa pula”
Kematiannya diusia yang relatif muda, sempat menimbulkan kecurigaan, bermotif pembunuhan politik. Setidaknya ini diakui sahabat Hok-gie, Herman O. Lantang saat diinterogasi polisi di Malang, Jawa Timur, serta cecaran pertanyaan wartawan kepada Rudy Badil (hal 70 dan 76). Tudingan itu cukup beralasan, mengingat semasa hidupnya Hok-gie dikenal sebagai aktivis mahasiswa dan penulis yang sangat kritis terhadap rezim Soekarno dan Soeharto, di awal pemerintahannya.
Pemikir dan Aktivis yang Selalu Gelisah
Dalam tulisan-tulisannya yang tersebar di berbagai media cetak nasional saat itu, Hok-gie misalnya mengkritik kebijakan pemerintah Soekarno dan Soeharto yang dinilai menyimpang. Kritik terhadap kelakuan rekan-rekannya sesama bekas aktivis 1966 yang duduk di parlemen dan dinilai melupakan cita-cita awal perjuangan mahasiswa juga dilontarkan . Tulisannya yang jujur dan tajam begitu membekas bagi pembacanya. Seorang pedagang peti mati menyampaikan rasa kehilangannya, kepada sahabat Hok-gie, Jeanne Mambu yang saat itu tengah mencari peralatan perkabungan di Malang. “Oh ini peti untuk Soe Hok-gie dan Idhan Lubis yang meninggal di Semeru. Saya kenal Soe dari tulisan di koran-koran, saya kagumi Soe yang mau memikirkan nasib rakyat kecil. Kami ikut berduka cita. Maka kami mohon, harap terima rasa duka cita ini dari saya dan staf. Terimalah peti jenazah ini, sebagai sumbangan dan rasa hormat kami semua di Malang…,” (hal.69).
Bagi Sejarawan Institut Sejarah Sosial Indonesia Hilmar Farid, Hok-gie adalah sosok penuh kontradiksi. Ia serius, banyak baca buku, senang diskusi dan debat tentang segala hal. Mulai dari politik sampai film serius tentang Dita Saxova-nya Antonin Moskalyk. Ia gencar mengkritik PKI tapi juga jadi orang pertama yang memprotes pembunuhan massal terhadap anggota dan pendukung partai itu. Hok-gie, tulis Farid dalam “Gie Lewat GIE Mengenang Rasa Malu” mengungkapkan, ikut dalam gerakan sel bawah tanah yang dipimpin tokoh Partai Sosialis Indonesia, PSI Soemitro Djojohadikusumo. Tapi suatu saat, ia menyebut para pemimpin partai itu “sosialis salon”. Ia dengan ringan keluar-masuk markas militer saat aktif di Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia, KAMI. Tapi juga sering bikin panas kuping para perwira, karena kritiknya terhadap militerisme (hal. 301-302).
Sedangkan Komisioner Komnas HAM, Stanley Adi Prasetyo menilai Hok-gie, sosok yang peduli dengan isu hak asasi manusia dan kebebasan pers. Ini bisa dibaca dari berbagai tulisannya diberbagai media cetak, catatan harian, sampai surat pribadi kepada para sahabat dan pacarnya, Dalam artikelnya “Kebebasan Pers dan Kekecewaan Masyarakat” yang dimuat di Harian Indonesia Raya, 12 Mei 1968, Hok-gie berharap pers juga bisa ikut berjihad melawan koupsi dan ketidakadilan. Dalam pandangannya, bila pers disensor maka kehidupan masyarakat kecil akan kian memburuk (hal.369). Dalam artikelnya “Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua” dimuat dalam Mahasiswa Indonesia Edisi Minggu ke V, Juni 1968 Hok-gie mengecam praktek pelarangan buku karya pengarang yang bersimpati pada kelompok komunis sampai larangan untuk membaca buku karya HB Jasin dan Mochtar Lubis. Buku-buku karya kedua penulis ini disingkirkan dari koleksi perpustakaan universitas. Saat itu Pembantu Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Bidang Teknis Pendidikan, Drs K Setiadi Kartohadikusumo, melarang 70 judul buku (hal.366)
Penyikapan suatu persoalan oleh Hok-gie, seperti ditulis Jakob Oetama dalam “Gelisah atas nama Integritas” nyaris seperti kakak kandungnya yang juga aktivis dan intelektual, Arief Budiman (Soe Hok Djin). Entah karena factor genetik atau pengaruh lingkungan, keduanya cenderung hitam putih. Salah satu contoh, seperti dalam catatan harian milik Hok-gie pada 20 Agustus 1968 yang sudah dibukukan “Catatan Seorang Demonstran (LP3ES)”: ” Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya. Kadang saya takut apa jadinya saya kalau saya patah-patah…”
Hok-gie selain pemikir juga aktivis, man in the action. Selain gelisah dan terus menggugat, ia juga seorang demonstran. Dia aktivis angkatan 66, arsitek long march mahasiswa dari Rawamangun ke Salemba, Jakarta yang menuntut harga bensin turun. Lazimnya aktivis mahasiswa, Hok-gie jarang pulang ke rumahnya di Kebon Jeruk, Jakarta. Hampir seluruh waktunya ada di kampus atau di jalan. Di kampus selain mengikuti kuliah, juga merencanakan, mengorganisasi demonstrasi, dan menghimpun kekuatan. Jangan lupa, tidak kalah penting Hol-gie punya hobi naik gunung. Hanya kepada langit di puncak gunung yang sepi dia bisa menghilangkan rasa penatnya perpolitikan. Keadaan waktu itu, tahun -tahun 1966, serba represif. Dia gugat keadaan lewat analisis, diskusi maupun tulisan, bahkan demonstrasi. Aktivitas Hok-gie, sudah barang tentu membuat khawatir keluarganya. Ibunya pernah menyampaikan kegundahannya: ” Gie, buat apa sih kritik-kritik orang, kamu cuma cari musuh saja.” Hok-gie hanya menjawab, “Ah, mama nggak ngerti.”
Kisah Asmara dan Sejarawan Tak Teliti
Bagi pembaca yang sudah menyimak catatan harian Hok-gie yang sudah dibukukan “Catatan Seorang Demonstran (LP3ES)” , disebut-sebut ia dekat dengan tiga teman perempuannya yang misterius yakni: Rina, Maria dan Sunarti. Misterius karena dalam buku yang dicetak hingga puluhan kali, ketiga nama perempuan itu merupakan nama samaran. Nama mereka sengaja dirahasiakan, agar kehidupan pribadi tak terganggu. Nah, dalam buku ini rasa penasaran pembaca, sedikit terjawab. Sunarti sebenarnya adalah Nurmala Kartini Pandjaitan atau Kartini Sjahrir yang kini memimpin sebuah partai. Dibuku ini istri almarhum politisi dan ekonom Sjahrir menulis: “Siapa yang ganti nama gue jadi Sunarti di buku itu? Gue pernah dekat dengan Gie sejak 1968, karena kita kan pernah jadi mahasiswa Gie tahun 1969.” (hal. 147). Hubungan keduanya kandas, akibat latar belakang budaya yang berbeda.
Teman dekat Hok-gie lainnya, Luki Sutrisno Bekti. Dia kini bekerja sebagai wartawan senior di Harian Media Indonesia. Luki mengenang dengan semboyan “Buku, Pesta, dan Cinta”, Hok-gie berharap mahasiswa di Fakultas Sastra-UI tumbuh menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Hok-gie, tulis Luki dengan penuh kesadaran mencoba membangun watak para mahasiswa bukan dengan cara memprovokasi atau mengkader secara kasat mata, tapi lebih dengan mengajak secara halus untuk berpartisipasi membesarkan bangsa lewat pengalaman kehidupan mahasiswa di fakultas (hal. 195). Selain mendaki gunung dan berdemonstrasi, aktivitas lain yang dilakukan Hok-gie saat itu menonton dan mendiskusikan film yang diputar di kampus atau berbagai kedutaan asing. Atau mendengarkan dan membahas lagu lagu bernada protes milik Joan Baez dan Bob Dylan.
Hok-gie juga manusia biasa, tak luput dari kekurangan. Sahabatnya di FSUI yang kini Guru Besar Sinologi FIB-UI Dahana menulis, Hok-gie senang bercanda, suka akan cerita-cerita yang sedikit jorok, menyanyikan lagu dengan plesetan yang kadang-kadang cabul. Sementara bekas muridnya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI Mona Lohanda lewat tulisannya “Perkenalan Intelektual dengan Soe Hok-gie”, menilai Hok-gie, sebagai Sejarawan yang kurang teliti dan detail. Mona yang kini bekerja di Arsip Nasional mengkritik Hok-gie tak mau bersusah payah menjelaskan latar belakang-sekalipun singkat-tentang apa yang menjadi pokok bahasan dalam setiap alinea yang dia tulis. Penilaian itu berdasarkan skripsi Hok-gie “Simpang Kiri dari Sebuah Jalan: Kisah Pemberontakan Madiun September 1948″. Misalnya ketika Muso datang kembali ke Indonesia tahun 1935 dan membentuk kelompok PKI Muda, atau PKI angkatan 35, dia tidak merasa perlu untuk menjelaskan bahwa kelompok ini selanjutnya akan ditulis PKI 1935 (hal. 396).
Penutup
Sayangnya dalam buku ini, tidak dimuat sebagian surat pribadi Hok-gie. Menurut Komisioner Komnas HAM, Stanley Adi Prasetyo dalam tulisannya, setidaknya ada 132 pucuk surat yang pernah ditulis Hok-gie (hal.339). Surat-surat itu ditulis dengan mesin ketik dan dikirim ke sejumlah teman-temannya, termasuk kepada sang pacar dan juga surat balasan teman dan pacarnya. Teman korespondensinya saat itu antara lain Indonesianis Herbert Feith, Ben Anderson, Daniel S. Lev, David R. Looker, bekas Menteri Prekonomian Dorodjatun Kuntjorojakti, Cendikiawan dan Sejarawan M.T Zen dan Onghokham.
Terlepas kekurangan yang ada, buku ini, layak dibaca siapapun, khususnya bagi kalangan intelektual dan aktivis mahasiswa . Nilai nilai yang dianut Hok-gie sebagai sosok aktivis dan cendikiawan yang mengedepankan humanisme, moralitas, kejujuran, setiakawan dan integritas yang kukuh tak mudah dibeli, layak ditiru. Seperti kata Rudy Badil, semangat Hok-gie dan keberaniannya mengungkapkan apa yang dilihat dan dirasakan, sesuai dengan apa yang ditulisnya. “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”. Memang terlalu jujur dan tanpa tedeng aling-aling, tetapi semangat ini harus ditularkan anak-anak zaman sekarang.
Akhirnya memunculkan kembali sosok Soe Hok-gie lewat bunga rampai buku ini, tentu tak dimaksudkan untuk mengkultusindividukan. Mungkin tepat apa yang ditulis Jakob Oetama, sosok Hok-gie pantas ditampilkan dan jadi teladan, di tengah krisis rasa keadilan, hilangnya rasa malu dan gencarnya semangat menggugat hukum saat ini.
***
Data Buku:
Judul Buku : SOE HOK-GIE…Sekali Lagi
Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya
Editor : Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan R
Halaman : xxx + 510
Cetakan : pertama, Desember 2009
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia,KPG Jakarta
ISBN : -13:978-979-91-0219-5
460 hari yang lalu URL pendek https://mtaufikbw.wordpress.com/2011/11/09/catatan-sahabat-untuk-sang-demonstran/#respond”>Komentar
pinushutan’s Blog