CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

7 Jun 2013

TINGKAT KESADARAN DAN GCS

helooooow...brooh ! lama sudah tak posting, maklum horang sibuk. baru lulus dapet gelar sarjana..hohoho tapi belom juga wisuda cuy, aih aih aih sekarang lagi nempuh profesi. makanya sibuknya rada lebay. ehehehehe..

karena di lahan praktek tetek bengek harus selalu siap sedia di dalem otak, baik itu teori  dari jaman albert einstein ampe RUU keperawatan yang masih anget2nya digosipkan. kita juga harus tau broh~ 

nah, ini saya mau ngepost sesuatuh yang gampang tapi kadang susah diingat. apalagi kalo bukan mengukur tingkat kesdaran dan GCS.


Tingkat Kesadaran dibagi menjadi :
Komposmentis. Sadar sepenuhnya, baik terhadap dirinya maupun lingkungannya. Pasien dapat menjawab pertanyaan pemeriksa dengan baik.
Apatis. Pasien tampak segan dan acuh tak acuh terhadap lingkungannya.
Delirium. Penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik dan siklus tidur-bangun yang terganggu. Pasien tampak gaduh, gelisah, kacau, disorientasi, dan meronta-ronta
Somnolen (letargie). Keadaan mengantuk yang masih dapat pulih bila dirangsang, tapi bila rangsang berhenti, pasien akan tertidur kembali.
Sopor (Stupor). Keadaan mengantuk yang dalam. Bisa dibangunkan dengan rangsang kuat (rangsang nyeri), tapi pasien tidak bangun sempurna dan tidak dapat memberikan jawabab verbal dengan baik.
Semi Koma. Penurunan kesadaran yang tidak memberikan respon terhadap rangsang verbal, dan tidak dapat dibangunkan sama sekali, tapi reflex (kornea, pupil) masih baik. Respon nyeri tidak adekuat.
Koma. Penurunan kesadaran yang sangat dalam, tidak ada gerakan spontan dan tidak daa respon terhadap rangsang nyeri.
Glasgow Coma Scale (GCS) adalah skala yang dipakai untuk menentukan/menilai tingkat kesadaran pasien, mulai dari sadar sepenuhnya sampai keadaan koma. Teknik penilaian dengan ini terdiri dari tiga penilaian terhadap respon yang ditunjukkan oleh pasien setelah diberi stimulus tertentu, yakni respon buka mata, respon motorik terbaik, dan respon verbal. Setiap penilaian mencakup poin-poin, di mana total poin tertinggi bernilai 15.
Jenis Pemeriksaan
Nilai
Respon buka mata (Eye Opening, E)
·      Respon spontan (tanpa stimulus/rangsang)
·      Respon terhadap suara (suruh buka mata)
·      Respon terhadap nyeri (dicubit)
·      Tida ada respon (meski dicubit)
4
3
2
1
Respon verbal (V)
·         Berorientasi baik
·         Berbicara mengacau (bingung)
·         Kata-kata tidak teratur (kata-kata jelas dengan substansi tidak jelas dan non-kalimat, misalnya, “aduh… bapak..”)
·         Suara tidak jelas (tanpa arti, mengerang)
·         Tidak ada suara
5
4
3
2
1
Respon motorik terbaik (M)
·      Ikut perintah
·      Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri)
·      Fleksi normal (menarik anggota yang dirangsang)
·      Fleksi abnormal (dekortikasi: tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri)
·      Ekstensi abnormal (deserebrasi: tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri)
·      Tidak ada (flasid)
6
5
4
3
2
1
Interpretasi atau hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol E…V…M…

17 Mei 2013

World Hipertenion Day


Hari Hipertensi Sedunia: Jagalah Tekanan Darah Anda

May 17, 2013
repost dari Didi Keitha 

World Hypertension Day (WHD) atau Hari Hipertensi Sedunia diprakarsai oleh The World Hypertension League (WHL) yang merupakan payung dari 85 komunitas hipertensi di dunia. Perayaan WHD adalah dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya hipertensi. Hal ini dirasakan penting karena biasanya individu yang mengalami hipertensi kurang tahu akan bahaya yang mengintainya.
WHL kemudian melancarakan WHD pada tanggal 14 Mei 2005, yang pada akhirnya setiap tanggal 17 setiap tahun dirayakan sebagai Hari Hipertensi Sedunia. Adapun tema perayaan WHD tahun 2005 adalah Awareness of High Blood Pressure. Kemudian pada tahun 2006 bertemakan Treat to Goal. Selanjutnya pada tahun 2007 tema yang diangkat adalah Healthy Diet, Healthy Blood Pressure. Adapun pada tahun 2013 ini tema yang diangkat dalam perayaan WHD adalah Take Control Blood Pressure. Mari kita kupas topik hipertensi dan bahayanya bagi kesehatan tubuh kita. Selamat membaca:

What is Hypertension?
Hypertension is most commonly known as High Blood Pressure. It is a chronic medical condition in which the blood pressure is elevated. Many people have high blood pressure for years without knowing it. Most of the time, there are no symptoms, but when high blood pressure goes untreated, it damages arteries and vital organs throughout the body. That’s why high blood pressure is often called the “silent killer”.

Hypertension Is A Global Epidemic!
Globally, 9.4 million die every year and 1.5 billion people worldwide suffer because of high blood pressure or hypertension. It is the biggest single risk factor for death world wide causing heart disease, stroke and kidney disease and diabetes.


What Is World Hypertension Day?
World Hypertension Day has been established to highlight the preventable stroke, heart and kidney diseases caused by high blood pressure and to communicate to the public information on prevention, detection and treatment. Each year, May 17th is designated World Hypertension Day.

What is Healthy Blood Pressure?
As hypertension and AF are often related, it is good to measure your blood measure regularly at home with an automatic, cuff style bicep (upper arm) monitor. Look for a blood pressure reading should be below 135 mmHG for the upper reading and below 85 mmHg for the lower reading for good health. When taking your blood pressure remember to do it when you are calm and quiet and at least 30 minutes after exercise. Begin by making sure the cuff fits around your upper arm. Sit with your back straight and don’t cross your feet. Take multiple readings at the same time of day. And of course, record your results for future reference. If you maintain a healthy blood pressure, you will help to maintain a healthy heart rhythm.

What is Healthy Heart Beat?
Do you know whether your heart beat or heart rhythm is normal? You can take your pulse at the same time as when you take your blood pressure. A faster than normal heartbeat is usually greater than 100 beats per minute and sometimes as fast as 150 beats per minute. An irregular heartbeat or rhythm is harder to detect. Symptoms range from feeling an irregular beat in your chest, to tiredness, fainting or absolutely nothing. So, it is best to check with your doctor who can do a simple test for AF.

What is Atrial Fibrillation (AF)?
Atrial fibrillation (AF) is the most common problem when the heart is pumping very irregularly and usually fast. Atrial fibrillation may have no symptoms and only be noticed by feeling the pulse or by a health care professional testing the heart. When the heart is not pumping well, and regularly, blood clots can form in the heart, break free and travel to the brain causing a stroke. AF episodes are usually intermittent, often recurring, and may become permanent. What’s the Link Between Hypertension and Atrial Fibrillation (AF)? Hypertension (high blood pressure) is the most common cause or risk factor that may lead to atrial fibrillation (abnormal heart beat). The combination of having atrial fibrillation and hypertension both significantly increases the risk of stroke!

The Best Prescription Is Prevention


STAY ACTIVE – ALL WAYS!

It may be possible to prevent hypertension and atrial fibrillation by staying physically active. Try light to moderate physical activities such as gardening, walking and housework as these have been shown in studies to be effective.

EAT MORE FRUITS AND VEGGIES
Eating healthy is always good for you. Begin by eating more fruits and vegetables. Have at least one vegetarian meal a week. Take fruit and nuts in their natural form as a snack. Or eat one fruit or  vegetable of every colour, every day.

DECREASE FAST PROCESSED FOODS
Cut down on foods that are high in fat, sugar and salt. These are mainly found in fast foods, ready to eat packaged foods and restaurant foods. If you cook more meals at home you can control how much fat, sugar and salt you use. And remember, it’s easy to remove the salt shaker from the table.

LIMIT ALCOHOL
Drink little or no alcohol.

STOP SMOKING
Smoking is major cause of death and disability. If you smoke, plan to stop.

AF Treatment
There are two general strategies for the treatment of atrial fibrillation – rhythm control and rate control. Your doctor will decide which strategy is best for you based on your symptoms and other factors.

RHYTHM CONTROL
These treatments attempt to prevent an irregular heartbeat by restoring and maintaining a normal, regular heartbeat. The first approach to rhythm control usually involves taking medications. Occasionally, some patients will require a controlled electric shock to the heart to restore a normal rhythm. Treatments for AF are generally guided by specialists, who can monitor the response and decide if any changes should be made to the treatment strategy.

RATE CONTROL
Almost every patient with atrial fibrillation will be prescribed a medication that is designed to slow the heart rate during atrial fibrillation. For many, this type of medication is enough to control the symptoms.

Hypertension Treatment, Blood Pressure Medications
Many drugs that lower blood pressure also prevent heart attacks and strokes. Talk to your doctor or healthcare provider for individualized care. And then remember to:
  • Take your medications regularly as instructed by your physician.
  • Most people need more than one medication to control blood pressure.
  • Report any side effects to your physician.
  • Continue to monitor blood pressure while on medication

20 Mar 2013

cara mengukur IQ bayi

“Ente gak nyambungan banget sih jadi orang, masa’ baru tadi diomongin sekarang udah lupa. Ujian begitu gampangnya ente kagak bisa..ckckckck”.  “maap gan, IQ ane rendaah” T_T. Hahahahaha. Onengers...kita  pernah kan test IQ, itu loh yang jawab soal dan pilihan buanyaaak buanget sampe kesel. Kalo mau test IQ pasti disuruh maem dulu, biar ntar pas jawab soal kagak jatoh pingsan ato ketiduran. Hehehe kata “test IQ”  mungkin udah biasa kita dengar, disekolah, di kantor, di kampus dan dimana2 biasa ada. nah, tapi pernahkah kalian berpikir seorang bayi punya IQ berapa? Bisakah bayi diukur IQ nya dan bagaimana caranya? Masa’ iya si bayi disuruh pegang pulpen sambil gambar2 sampe kesek kaya kita.. (ketahuan kan IQ ente berapa..hahaha) Hayooo...pasti kalian yang gak pernah kepikiran pas baca artikel saya sekarang lagi “manggut-manggut” sambil bilang ooh...iyaa ya..si tata bener juga. Huahahaha. IQ ente berape sih gan? Oneng banget jadi orang.
Okelah, sini saya kasih inpo lagi seputar IQ pada bayi, biar ente kalo udah punya anak kagak bingung lagi itu anak nanti kalo udah gede jadinya pinter apa enggak. huahahaha
Jakarta, Tes IQ biasanya digunakan untuk mengetes tingkat kecerdasan seseorang dan sudah mulai dilakukan pada anak usia sekolah. Tapi ternyata tes IQ juga bisa dilakukan pada bayi. Bagaimana caranya?

Ada banyak faktor yang dapat menentukan tingginya tingkat kecerdasan atau IQ (Intelligence Quotient) pada anak, antara lain gen, usia ibu saat melahirkan, ASI, mendengarkan musik sejak dalam kandungan dan video pendidikan untuk bayi.

Dengan melakukan tes IQ sejak bayi, orangtua bisa menilai kemampuan kognitif anak sejak dini. Tapi untuk mengukur tingkat kecerdasan yang sebenarnya, orangtua harus menunggu sampai anak mendekati usia sekolah, sekitar 5 tahun.

Dilansir dari Livestrong, berikut beberapa tes yang dapat dilakukan untuk mengukur IQ bayi:

1. Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC)
Menurut Brainy Child website, Wechsler Intelligence Scale dapat mengukur kecerdasan anak. Tes Wechsler bisa diberikan untuk anak usia 6 bulan ke atas. Tes ini dapat dilakukan tanpa membaca atau menulis.

Pada tes Wechsler, anak diukur kemampuan pemahaman verbal, penalaran perseptual, pengolahan kecepatan dan memori, antara lain dengan mengumpulkan balok, angka atau gambar dalam pola menurut model atau meminta mengulangi kata-kata yang diucapkan oleh penguji.

WISC digunakan tidak hanya sebagai tes kecerdasan, tetapi juga sebagai alat klinis. Banyak praktisi kesehatan menggunakannya untuk mendiagnosis gangguan hiperaktif (ADHD) dan ketidakmampuan belajar pada

2. Tes IQ Fisher-Price
Perusahaan mainan Fisher-Price mengembangkan tes kecerdasan untuk bayi. Dorothy Einon, komisaris Fisher-Price sekaligus profesor psikologi di University of London mengembangkan tes ini untuk bayi berusia 6 bulan sampai 1 tahun.

Pada tes ini, diberikan 10 pertanyaan untuk orangtua, yang dapat membantu menentukan bagaimana perkembangan kecerdasan bayinya dibandingkan dengan kecerdasan bayi rata-rata.

Dalam tes tersebut, orangtua diminta untuk menilai perilaku bayi, seperti bagaimana bayinya bermain dengan boneka beruang, apakah sang bayi dapat memainkan jenis permainan tertentu dan bagaimana bayi menanggapi jika namanya dipanggil.

3. Bayley Scales of Infant Development (BSID)
Bayley Scales of Infant Development (BSID) secara luas digunakan untuk menilai perkembangan balita. Menurut Healthline.com, BSID digunakan untuk anak-anak dari usia 1 bulan sampai 42 bulan untuk mengukur kemampuan kognitif, motorik (halus dan kasar), bahasa (reseptif dan ekspresif) dan pengembangan perilaku balita.

Bagian kognitif dari tes ini menilai kemampuan seperti ketajaman sensori, memori belajar dan pemecahan masalah, serta vokalisasi dan pembentukan konsep-konsep matematika. Tes ini juga membantu mendiagnosa dan mengobati balita dengan cacat pertumbuhan dan keterbelakangan mental.

Tes ini terdiri dari serangkaian tugas dan permainan yang membutuhkan waktu antara 45-60 menit. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas tersebut kemudian akan dikonversi dalam skala nilai dan skor komposit. Skor ini digunakan untuk menentukan kinerja anak.

18 Mar 2013

Apa itu diabetes

-->

Penanggulangan Saat Sakit

Sedikit cerita, almarhum ayah saya menderita penyakit diabetes udah bertahun-tahun. Dan pada akhirnya penyakit itu lama-lama berkomplikasi memanggil penyakit lain. (aduuh..jadi sedih lagi T_T). Diabetes emang penyakit yang nyeremin, selain itu penyakit bisa nurun ato bersifat genetik (termasuk saya yang beresiko mengidap diabetes, untung saya gak suka makanan manis) diabetes yang gak terkontrol lama-lama bisa komplikasi ke jantung, ginjal, luka yang gak sembuh2 dan lain-lain. Yang terjadi pada ayah saya adalah komplikasi pada jantung dan ginjal. Sebenernya beliau udah terkontrol sih diabetnya, tiap bulan check up ke rumah sakit, gak makan manis2, olahraga. Tapi yah ternyata Allah lebih sayang sama beliau. Tutup usia di tahun ke-60.. miss you daddy....so much T_T

Sedikit info buat kalian, yang keluarga, saudara atau tetangga yang menderita diabetes juga. Ingat, banyak pantangan buat penderita diabetes lho, dan penyakit diabetes ini tidak bisa disembuhkan tapi masih bisa dikontrol dengan memodifikasi gaya hidup.
Ketika para diabetesein terserang penyakit, kadar glukosa pada darahnya akan meningkat dari biasanya sekalipun ia tidak makan.
Hal tersebut disebabkan karena efektifitas hormon insulin berkurang ketika tubuh dalam kondisi sakit. Sedangkan hati menghasilkan glukosa sekalipun tidak makan.
Hormon insulin berperan penting dalam terjadinya proses perpindahan glukosa dari darah ke dalam sel tubuh . Di dalam sel tubuh glukosa kemudian dimetabolismekan sehingga menghasilkan kalori (energi).
Menurunnya efektifitas hormon insulin mengakibatkan menurun pula kadar glukosa yang masuk ke dalam sel. Akibatnya sel tubuh kekurangan glukosa dan berusaha mendapatkan kalori dari pemecahan lemak. Pemecahan lemak akan menghasilkan benda keton yang dapat mengakibatkan terjadinya ketoasidosis.
Hormon-hormon yang diproduksi tubuh saat sakit selain membantu mengatasi penyakit (stres fisik) juga memiliki efek samping meningkatkan kadar glukosa pada darah. Stres emosional dan pembedahan juga mempengaruhi kadar glukosa darah.
Oleh karena itu, ketika diabetesein mudah kehilangan kontrol glukosa darah sehingga membutuhkan perawatan khusus.
Yang Harus Dilakukan Ketika Diabetesein Sedang Sakit
  1. Periksa glukosa pada darah lebih sering dari biasanya, jika perlu lakukan setiap 4 jam sekali.
  2. Lakukan pemeriksaan keton urin, khususnya jika glukosa darah lebih dari 240 mg/dL.
  3. Gunakan insulin / obat hipoglikemik oral sesuai dengan program selama sakit sekalipun diabetesein tidak makan. Penting untuk diingat, waktu, dosis, dan reaksi obat. Hasil catatan akan sangat bermanfaat untuk keperluan penanganan medis lanjutan.
  4. Segera ke dokter untuk mengobati penyakit.
  5. Jika memungkinkan tetap makan teratur.
  6. Bila terjadi gejala mual dan muntah, cobalah untuk mengonsumsi makanan yang lunak atau cair dalam porsi kecil tetapi sering namun jumlah kalori totalnya sama seperti biasa. Cobalah minum 400cc cairan tiap 1 jam misalnya the, jus buah, atau minuman soda diet.
  7. Minum banyak cairan bebas kafein tiap jam untuk mencegah kekurangan cairan tubuh (dehidrasi). Minum sedikit demi sedikit secara perlahan akan membantu jika terdapat rasa sakit pada bagian lambung (ulu hati).
  8. Periksa suhu tubuh 4 kali sehari bila tubuh lebih terasa hangat dari biasanya (demam).
  9. Istirahat dan jangan melakukan aktifitas olahraga selama sakit.
  10. Simpan daftar nomer telepon untuk menghubungi dokter, perawat, rumah sakit, dan ambulans.
  11. Cari pertolongan medis jika penyakit tidak bisa diatasi atau bertambah parah.
Wajib Menghubungi Tenaga Kesehatan Jika..

  1. Tidak dapat makan sesuai perencanaan makan yang teratur selasma lebih dari 8 jam.
  2. Hasil pemeriksaan glukosa darah di atas 250 mg/dL selama 2 hari berturut-turut.
  3. Kadar glukosa darah turun di bawah 70 g/dL lebih dari 1 kali selama sakit dan ada gejala hipoglikemia kadar glukosa pada darah di bawah normal.
  4. Muntah dengan interval 2 kali atau lebih dalam 4 jam, atau diare terus menerus.
  5. Sakit perut yang tiba-tiba.
  6. Pada diabetesein Diabetes Melitus tipe 1 ditemukan kadar keton urin cukup besar.
  7. Kesulitan bernafas atau sesak nafas. Yang merupakan salah satu gejala yang menunjukkan terlalu banyak keton di dalam darah.
  8. Mengalami gejala infeksi lebih dari 2 hari : demam (390C) yang diiringi sakit kepala serta menggigil.
  9. Mulai bersugesti untuk merubah dosis suntikan hormon insulin selama sakit.
Informasikan Kepada Petugas Kesehatan Mengenai..

  1. Lama sakit dan lama tidak makan dari yang seperti biasanya.
  2. Kapan dan berapa dosis suntikan hormon insulin atau obat hipoglikemik oral yang terakhir diberikan.
  3. Kadar glukosa pada darah 24 jam terakhir.
  4. Hasil pemeriksaan keton urin.
  5. Kondisi Suhu Tubuh.
  6. Frekuensi diare dan muntah.
  7. Makanan dan minuman yang dikonsumsi ketika sakit.
  8. Obat yang digunakan untuk mengatasi sakit.

Obat-obat yang Boleh Digunakan Saat Sakit
Hindari obat-obat yang memiliki efek samping meningkatkan atau menurunkan kadar glukosa pada darah. Hubungi dokter sebelumnya untuk menggunakan obat-obatan tersebut.
penderita diabetes dibatasi masalah makanan (banyak pantangannya)…banyak para penderita diabetes yang belum tau apa saja makanan yang dijadikan pantangan..dan makanan apa saja yang dianjurkan untukdikonsumsi…???
Diabetes, sering disebut penyakit gula berawal dari berkurangnya hormon insulin yang dihasilkan oleh pankreas. Insulin bertugas mengatur pemakaian gula dalam tubuh, termasuk mengatur jumlah gula dalam hati untuk menghasilkantenaga.
Penderita diabetes dianjurkan untuk mengurangi/membatasi jumlah asupan karbohidrat. Bahan makanan yang dianjurkan bagi penderita diabetes antara lain: rumput laut, temulawak, beras merah, pare, labu kuning, kangkung, wortel, jamur hioko, jus kentang, ubi, dan sup bening. Buah-buahan yang baik untuk penderita diabetes adalah buah-buahan yang berkalori rendah seperti: mentimun, buah pir, buah persik, dan melon.
Penderita diabetes harus membatasi makanan-makanan yang dapat memicu naiknya kadar gula dalam darah, seperti: permen, biskuit, roti, tepung, manisan, kentang, buah-buahan kering, kuah daging, kismis, mentega, keju, coklat, hati goreng, mayones, susu kental, minyak zaitun, panekuk, minuman ringan/bersoda, minuman keras, puding, anggur, kurma, donat, aneka keripik, dan daging.

Hubungan Diabetes Mellitus dengan gagal ginjal

-->
Seperti yang saya katakan di postingan sebelumnya kalo ayah saya menderita penyakit diabetes dan komplikasinya ke jantung dan ginjal. Sedikit penjelasan kenapa bisa sampai berkomplikasi ke jantung. Jadi singkatnya begini, sel-sel darah penderita diabetes tidak sama denagn orang normal. Istilah kesehatannya viskositas atau kekentalan darah penderita diabetes ini adalah pekat karena sel-sel darahnya mengandung glukosa. Ketika jantung memompa darah untuk diedarkan ke seluruh tubuh, pertama-tama si jantung masih bisa mentolerir kepekatan darah. Karena kita tahu kembang kempisnya si jantung akan berpengaruh dengan kepekatan darah itu sendiri. Dan lama-lama jantung akan capek juga karena memompa darah yang mengadung glukosa. Akhirnya jantung yang awalnya memompa darah dengan cepat lama-lama akan semakin pelan dan darah yang dipompa keseluruh tubuh dan paru2 juga tidak maksimal. Hasilnya jantung akan membengkak yang kita sebut dengan kardiomegali. Karena jantung membesar maka akan mempersempit tempat paru-paru yang dapat menyebabkan sesak dan sulit bernafas. Kurang lebih seperti itu hubungan diabet dan jantung
.
Tapi lebih saya jelaskan lagi disini hubungan diabet dengan gagal ginjal. Telah kita ketahui bahwa faktor pemicu terjadinya gagal ginjal diantaranya adalah hipertensi,stroke,kanker,lupus,dan tidak ketinggalan Diabetes!
Komplikasi kronis diabetes melitus (DM) terutama disebabkan gangguan integritas pembuluh darah dengan akibat penyakit mikrovaskuler dan makrovaskuler. Komplikasi tersebut kebanyakan berhubungan dengan perubahan-perubahan metabolik, terutama hiperglikemia. Kerusakan vaskuler merupakan gejala yang khas  sebagai akibat DM, dan dikenal dengan nama angiopati diabetika. Makro- angiopati (kerusakan makrovaskuler) biasanya muncul sebagai gejala klinik berupa penyakit jantung iskemik dan pembuluh darah perifer. Adapun mikro- angiopati (kerusakan mikrovaskuler) memberikan manifestasi retinopati, nefropati dan neuropati.
Nefropati diabetik merupakan manifetasi mikroangiopati pada ginjal yang ditandai dengan adanya proteinuri (mula-mula intermiten kemudian persisten), penurunan GFR ( glomerular filtration rate) peningkatan tekanan darah yang perjalanannya progresif menuju stadium akhir berupa gagal ginjal terminal.
Berbagai teori tentang patogenesis nefropati diabetik adalah peningkatan produk glikosilasi dengan proses non enzimatik yang disebut AGEs (Advanced Glicosylation End Products), Peningkatan reaksi jalur poliol (polyol pathway), glukotoksisitas (oto-oksidasi), dan protein kinase C memberikan kontribusi pada kerusakan ginjal.
Kelainan glomerulus disebabkan oleh denaturasi protein karena tingginya kadar glukosa, hiperglikemia dan hipertensi intraglomerulus. Kelainan/perubahan terjadi pada membran basalis glomerulus dengan proliferasi dari sel-sel mesangium. Keadaan ini akan menyebabkan glomerulosklerosis dan berkurangnya aliran darah, sehingga terjadi perubahan-perubahan pada permeabilitas membran basalis glomerulus yang ditandai dengan timbulnya albuminuria.
Beberapa studi cross-sectional dan longitudinal telah mengidentifikasi adanya beberapa faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan risiko utama dari nefropati diabetik. Faktor-faktor risiko tersebut antara lain  : hipertensi, glikosilasi hemoglobin, kolesterol, merokok, peningkatan usia, resistensi insulin, jenis kelamin, ras (kulit hitam), dan diet tinggi protein.
Hasil penelitian
Faktor risiko yang terbukti berpengaruh terhadap kejadian gagal ginjal terminal pada penderita DM adalah hipertensi diastolik (OR : 15,03; 95%CI : 2,25-100,43) dan kadar kholesterol total (OR : 11,61; 95%CI : 1,69-79,83). Nilai sumbangan secara bersama kedua variabel tersebut terhadap kejadian gagal ginjal terminal sebesar 27%.
Pada penelitian ini tidak didapatkan/tidak terbukti memiliki kemaknaan hubungan terhadap progresivitas terjadinya gagal ginjal terminal pada penderita DM adalah variabel lamanya menderita DM, hipertensi sistolik,  kadar gula darah puasa, kadar gula darah 2 jam post prandial, kadar trigliserida dan kebiasaan merokok.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan :
1.Kepada masyarakat khususnya penderita DM, agar selalu melakukan pemeriksaan atau kontrol tekanan darah, dan kadar kolesterol total  secara rutin serta menjaganya pada kondisi yang normal.
2.Perlu diadakan penelitian lanjutan dengan variabel glikosilasi hemoglobin (HbA1c) sebagai dasar dalam menentukan terkontrol tidaknya kadar gula darah pada penderita  DM.
3.Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan rancangan penelitian yang lebih baik seperti studi kohort dengan sampel yang lebih besar.