CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Tampilkan postingan dengan label sekeranjang puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekeranjang puisi. Tampilkan semua postingan

14 Agu 2014

iya

iya aku lebay
melebay-kan perasaan

tapi semoga,
suatu saat kau pun tau
seperti apa hakikat kesetiaan itu ada


ini sekeranjang puisi untukmu Le



Ini sekeranjang puisi untukmu Le,
Apa kabarmu di sana?
Semua ini tentangmu, kau harus tahu
Siapa lagi aku bercerita kalau bukan tentang kau.
Ya, tak ada lagi kaupun juga sudah pasti tahu

Bagaimana kabar senja di Jakarta?
Apa masih sama dengan yang kau dapat di sini,
Kala hujan, dingin dan basah
Bukankah juga kemarin kita berpisah di awal senja bersama hujan?

Dan hujan di kala itu,
Aku masih mengenangnya
Dimana kau mencium keningku dengan sayu
Wajah yang basah di bawah gerimis
Aku mengusapnya, kau pun tersenyum
Aku menahannya, menahan biar hujan dari mataku tak juga jatuh
Agar kau tak sedih meninggalkanku

Tak kah kau tanyakan kabar senja di sini Le?
Masih sama kurasa.
Senja disini tetap dingin, bahkan semakin dingin karna kepergianmu
Aku rindu pada senja yang ada pada dirimu, tak kah kau juga rindu padaku?
Tapi aku bisa apa?

Ini, kubuatkan sekeranjang puisi untukmu Le,
Jangan bersedih,
Dengan ini semoga
Senja di hati kita tak dingin lagi
Dengan ini kuharap
Kita masih bisa mencium bau tanah yang diguyur hujan
Dengan bau yang sama
hujan dan senja di jakartamu, dan di malangku berada
Karna hujan aku mengingatmu, karna senja kaupun akan mengingatku

(sekeranjang puisi, jakarta-malang _ tata chan _ march 2, 2014 on August 12, 2014)

Dingin



Juli ini dingin, sedingin kota es
Kau tahu? Kota es itu seperti apa?
Ah, aku hanya membayangkan saja
Juli ini dingin, kawan
Benar-benar dingin
Entah karena hatiku yang terluka atau aku yang kesepian
Rasanya dingin saja kawan,
Tidakkah kau juga merasakan?

Aku menggigil,
Kenapa malang begitu dingin begini
Apa mau eropa dibawa kemari kawan?
Kita tukar saja hujan dengan salju disana
Pasti anak-anak senang

Ah, sebenarnya bukan begitu kan
Mungkin karena aku merindukannya ya kawan
Sejak itu, tak ada lagi sapa kawan
Makanya aku merasa dingin
Kau bertanya apakah aku merasakan pelukan dan ciumannya kawan?
Sepertinya aku lupa bagaimana rasanya..
Ah, aku benar-benar ingin mengingat semuanya
Biar aku tak dingin lagi
Dengan begitu tak usah kita tukarkan
Hujan kita dengan salju di eropa sana kawan

(tata chan, - Dingin, July 2014)

Le



Kau tau Le, aku ini bintang
Bintang yang berkejaran dengan anganku sendiri,
Bintang yang terbangun saat orang-orang senyap tertidur.

Kau tau Le..
Ada banyak orang-orang yang membuang malamnya untuk mendengkur
tapi kau harus tau, ada aku yang menemanimu
saat kau terbangun nanti

ini aku Le, si bintang yang tetap terjaga saat gulita
mungkin kau tidak melihatku saat kau sedang marah
atau tidak merasakan kedatanganku saat kau bersama orang lain
tapi kau harus tau Le, aku selalu ada untukmu
disini ataupun disana, kita tidak pernah terikat oleh waktu lagi
karena kau akan menemukanku hanya dengan memanggilku saat
orang-orang senyap tertidur

ssstt, jangan keras-keras memanggilku Le,
cukup pikirkan aku saat kau merindukanku
dan aku akan datang dengan tarian cintaku untukmu

Le, aku mencintaimu
Kau harus tau sekarang aku ini adalah bintang
Yang bisa kau lihat setiap senyap malam
Dan kita tak lagi terikat oleh jarak dan waktu

Le, meski aku cemburu
Aku cemburu karena kau nyata dan dia bersamamu itu nyata
Sedangkan aku entah, bayangan yg mungkin saja kau lupa
Bagaimana bentuk dan wajahku
Tapi aku tetaplah akan menjadi bintang Le,,
Bintang yang selalu ada untukmu
karena aku mencintaimu

(tata chan – Le, August 12, 2014)